Hujan di bulan Juni


Malam ini hujan, hujan di bulan juni yang sendu. Air dibelakang rumahku mulai menggenang membanjiri tanah seperti banyaknya kenangan yang ku kumpulkan hanya untuk mengutuki diriku sendiri yang begitu naif berharap cinta seperti di negeri dongeng, aku lupa usia ku sekarang sudah 20 tahun dan semua mendadak realistis dan tak menyenangkan, aku masih berharap-harap cinta dengan perasaan menyenangkan dan tak ada duka, sekali lagi aku memang naif!

Entah kenapa hujan bulan juni selalu terasa menyedihkan, rintik hujan harusnya telah menghapus jejak langkah kita, tapi luka selalu menyisakan bekas. Sore tadi aku memandangi genangan air di belakang rumahku, kepalaku bertanya-tanya mengapa air semakin tinggi, apa yang tersumbat sampai air meluap? Apakah sama seperti kecewa yang dipendam dan semakin lama ditumpuk bersama luka yang lain akhirnya meledak dan menyakiti semua pihak, aku berharap aku memiliki keberanian untuk menyampaikan perasaanku sejak awal sehingga aku bisa memaafkan dan rasa benci tak menumpuk di hatiku. sore itu aku maju sedikit ditempatku berdiri biasa, aku merasakan hujan menyentuh kulitku, dingin. Tak seperti desember yang hujannya selalu dirindukan, hujan di bulan juni seperti menyiram luka dengan air cuka. Juni selalu mengingatkanku pada banyak jalan sedih yang ku lewati, aku merasa terlalu muda untuk terlalu kecewa pada banyak hal.

 Telepon selular milikku berdering, sudah hampir jam 12 malam, pesan whatsapp dari seseorang yang telah ku kenal kurang dari 2 tahun ini, ia menyatakan cintanya padaku. Bukan perkataan-perkataan yang biasa ku dengar. Aku bahkan meneteskan air mata karena sungguh aku merasakan ketulusannya. Aku merasa dibebaskan!
Dia tak menjanjinkan apapun, bahkan tak memintaku menjadi miliknya, ia merasa egois bila ia memintaku. Ia mengharapkanku menjadi versi terbaik dari diriku. Ia ingin aku hidup merdeka dengan aturanku. Ia ingin aku bahagia dengan pilihanku. Dia berkata padaku bahwa aku berhak memiliki hidup yang aku ingini, mencoba berbagi macam kesalahan dan memperbaikinya, aku harus merasakan dunia! Tapi ia tak rela aku menderita, menangisi masa mudaku yang hanya sekali, pasrah pada cinta yang sangat egois tanpa mampu melakukan apa-apa, ia tak rela! Dimana? Dimana diriku yang berani melawan? Kemana perginya wanita dalam diriku yang berdiri di kakinya sendiri, apa yang terjadi pada diriku? Aku memandang kosong dinding kamarku, merenungi segala perkataannya. Bulir-bulir mengalir dari ujung mataku, aku mengingat kembali segala macam perlakuan buruk yang pernah ku terima dari orang-orang dan betapa malam ini aku merasa sangat dicintai. Betapa aku merasa sangat dihargai setelah sekian lama aku dibuang dan disia-siakan. Aku mengingat di kafe kecil bernama Joko Tingkir di ujung sebuah kampung, ia menatapku lama tanpa berkata sepatah katapun, ia hanya duduk mendengarkanku bercerita tentang hal-hal membosankan dan segala keluhanku sambil sesekali tertawa. Aku mematikan lampu kamarku, memejamkan mata dan berbisik sedikit kepada sang Empunya segala. Aku menitipkan doa untuknya seorang lelaki tua yang berkata dirinya sangat kurang ajar menyukai gadis seusiaku. Aku berharap dia selalu bahagia dan entah suatu saat aku berharap bisa mencintainya.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Sekilas Tentang Daddy Issues

Tentang Vilian

Don't Judge Challenge